Minggu, 13 September 2026Live
BREAKOUTTerbaru · Terpanas
Budaya2 mnt

Festival pendopo di Solo menolak jadi dekorasi: yang dipentaskan adalah kerja

Bukan karnaval kostum. Empat malam diisi latihan terbuka, arsip lisan, dan tarian yang sengaja dibiarkan belum selesai. Penonton boleh masuk ke hinterland panggung.

Ayuningtyas Putri · Selasa, 8 September 2026 · 19.00 WIB · 22 rb pembaca

SOLO — Kurator festival tahun ini menolak spanduk yang terlalu rapi. “Kalau rapi, itu sudah jadi produk,” katanya di pendopo yang lantai batiknya aus di bagian tempat duduk penabuh. Yang ditawarkan kepada publik adalah kerja: ulang, salah, ulangi.

Empat kelompok dari Jawa, Bali, dan Kalimantan memakai satu panggung bergiliran. Tidak ada juara. Ada arsip: setiap malam direkam, lalu diputar pelan keesokan siangnya bagi yang ingin mendengar keputusan artistik yang biasanya tersembunyi.

Budaya yang hanya tampil di malam pembukaan adalah budaya yang sudah menyerah jadi hiasan.

Pemkot mendukung dana, tetapi tidak menentukan repertoar. Itu yang membuat festival ini berbeda dari agenda pariwisata di kalender yang sama. Tiket habis untuk dua malam terakhir. Malam pertama, masih ada kursi di tepi tiang.